perasaan bersalahmu membuat ku merasa masih dicintai.
terus saja begini,
toh aku sudah kebal dengan kekecewaan.
Selasa, 29 September 2015
Senin, 28 September 2015
"mataku tak bisa bohong," begitu katamu
aku mengiyakan
karena aku mengenal betul mata sendu itu.
kapan ia menyimpan sendiri segala rahasia, kapan ia tutup rapat-rapat lubang kebohongan.
aku hanya tinggal berpura-pura seperti kau biasanya.
kekasih,
menipu ku pun sia-sia
waktu berpihak padaku.......
kelak kau akan mengerti seperti apa ketulusan yang kau bodoh-bodohi.
aku mengiyakan
karena aku mengenal betul mata sendu itu.
kapan ia menyimpan sendiri segala rahasia, kapan ia tutup rapat-rapat lubang kebohongan.
aku hanya tinggal berpura-pura seperti kau biasanya.
kekasih,
menipu ku pun sia-sia
waktu berpihak padaku.......
kelak kau akan mengerti seperti apa ketulusan yang kau bodoh-bodohi.
Kamis, 24 September 2015
sekali lagi..
bolehkah aku mengangkat kembali kisah kita?
cerita yang menahun mengakar,
dalam jerat ingatan akan tumpukan kenangan yang begitu mengikat… erat!!!
hmm..
hanya kali ini berbeda
tak lagi menceritakanmu sebagai peran utama.
hanya sebagai penanda saja bahwa kamu pernah ada disini, menetap cukup lama.
kini, aku bersama kekasih ku yang baru
kekasihku yang ini suka sekali bercerita,
menceritakan dongeng-dongeng dengan segala keajaiban.
dan semoga saja ini tak lagi sendu seperti dulu
tak lagi basah luka yang berkecambah
mantan kekasih,
kesabaranku berbuah manis
kelegaanku mengikhlaskanmu melenyapkan prasangka yang melulu merajam jahanam.
bolehkah kali ini saja aku berbahagia?
tak lagi ratap akan lagu yang sama di telinga kita
tak lagi catat ulang serpih kenangan
ingatan ini seperti tajam kapak yang mulai menumpul!
sisi yang tak lagi mampu mengiris perih
hingga pun tak lagi tercium aroma wangi darahnya.
mantan kekasih,
senyumku kini lepas
terbawa ke udara hingga terbang bebas
murka trauma ku pun telah purna tak bernyawa.
sudah cukup cintaku merampas nikmat hidupku
kali ini ku biarkan ia berdebu hingga luruh dimakan waktu.
bolehkah aku mengangkat kembali kisah kita?
cerita yang menahun mengakar,
dalam jerat ingatan akan tumpukan kenangan yang begitu mengikat… erat!!!
hmm..
hanya kali ini berbeda
tak lagi menceritakanmu sebagai peran utama.
hanya sebagai penanda saja bahwa kamu pernah ada disini, menetap cukup lama.
kini, aku bersama kekasih ku yang baru
kekasihku yang ini suka sekali bercerita,
menceritakan dongeng-dongeng dengan segala keajaiban.
dan semoga saja ini tak lagi sendu seperti dulu
tak lagi basah luka yang berkecambah
mantan kekasih,
kesabaranku berbuah manis
kelegaanku mengikhlaskanmu melenyapkan prasangka yang melulu merajam jahanam.
bolehkah kali ini saja aku berbahagia?
tak lagi ratap akan lagu yang sama di telinga kita
tak lagi catat ulang serpih kenangan
ingatan ini seperti tajam kapak yang mulai menumpul!
sisi yang tak lagi mampu mengiris perih
hingga pun tak lagi tercium aroma wangi darahnya.
mantan kekasih,
senyumku kini lepas
terbawa ke udara hingga terbang bebas
murka trauma ku pun telah purna tak bernyawa.
sudah cukup cintaku merampas nikmat hidupku
kali ini ku biarkan ia berdebu hingga luruh dimakan waktu.
mmmmmmhh...
Aku jadi rindu keras kepalamu.
Ini serupa ilalang liar, tumbuh subur dalam kepala.
Biasanya pola pikirmu selalu menjadi tempat singgah ku sebelum kembali yakin berjalan lagi.
Bahkan hingga kini.
mmmmmmhh...
Sudah mendekati subuh dan aku masih setia bersujud doa.
Entah doa apa.
Jadi kembali mengurai lagi simpul waktu.
hahaha
Memang,
tak pernah berhenti jatuh cinta dengan 'kita',
cerminan sosokku yang ku lihat ada padamu
perkenalan yang aneh,
bahagia yang begitu sederhana.
Meski mungkin terdengar jauh dari kata selamanya,
Tapi darimu, kekasih,
aku belajar bagaimana menyamarkan lukanya,
memeluk kesedihannya dengan tabah.
Kamu,
terima kasih telah mendewasakan aku.
Kamu,
teruslah keras kepala!
Karna aku candu memutar gema suaramu.
Mendengarmu berpetuah,
seperti yg sudah-sudah.
Aku jadi rindu keras kepalamu.
Ini serupa ilalang liar, tumbuh subur dalam kepala.
Biasanya pola pikirmu selalu menjadi tempat singgah ku sebelum kembali yakin berjalan lagi.
Bahkan hingga kini.
mmmmmmhh...
Sudah mendekati subuh dan aku masih setia bersujud doa.
Entah doa apa.
Jadi kembali mengurai lagi simpul waktu.
hahaha
Memang,
tak pernah berhenti jatuh cinta dengan 'kita',
cerminan sosokku yang ku lihat ada padamu
perkenalan yang aneh,
bahagia yang begitu sederhana.
Meski mungkin terdengar jauh dari kata selamanya,
Tapi darimu, kekasih,
aku belajar bagaimana menyamarkan lukanya,
memeluk kesedihannya dengan tabah.
Kamu,
terima kasih telah mendewasakan aku.
Kamu,
teruslah keras kepala!
Karna aku candu memutar gema suaramu.
Mendengarmu berpetuah,
seperti yg sudah-sudah.
abu abu dan semu
mulai tersirat yang semula tak terlihat.
seperti keindahan di kemelut pekat malam.
setitik warna di dasar hitam dalam kanvas.
mengacaukan pola,
memberi beda.
menodai kemurniannya.
entah itu bahagia,
atau sepercik luka
yang malu-malu tumbuh,
seperti tunas merambah rusuk
menyisir teluk....
mulai tersirat yang semula tak terlihat.
seperti keindahan di kemelut pekat malam.
setitik warna di dasar hitam dalam kanvas.
mengacaukan pola,
memberi beda.
menodai kemurniannya.
entah itu bahagia,
atau sepercik luka
yang malu-malu tumbuh,
seperti tunas merambah rusuk
menyisir teluk....
kata Ibu ku….
jadilah terang di lautan kelam
meski hanya setitik,
terkadang yang menjadikan gelap itu indah adalah satu muasal cahaya bintang.
kata Ibu ku….
jadilah senja yang dinikmati walau hanya sebentar,
keindahan yang sementara namun meneduhkan
kata Ibu ku….
berbahagialah, meski ribuan ujian mengasah
kata Ibu ku….
tersenyumlah, aku melahirkanmu susah payah,
aku menyayangimu dengan taruhan jiwa dan ragaku.
jadilah berkat bagi mereka yang menyakitimu.
jadilah kasih bagi mereka yang membencimu.
dan
jika kamu ikhlas dengan semua itu,
aku akan sangat bangga padamu.
jadilah terang di lautan kelam
meski hanya setitik,
terkadang yang menjadikan gelap itu indah adalah satu muasal cahaya bintang.
kata Ibu ku….
jadilah senja yang dinikmati walau hanya sebentar,
keindahan yang sementara namun meneduhkan
kata Ibu ku….
berbahagialah, meski ribuan ujian mengasah
kata Ibu ku….
tersenyumlah, aku melahirkanmu susah payah,
aku menyayangimu dengan taruhan jiwa dan ragaku.
jadilah berkat bagi mereka yang menyakitimu.
jadilah kasih bagi mereka yang membencimu.
dan
jika kamu ikhlas dengan semua itu,
aku akan sangat bangga padamu.
kenyataan bahwa kau mulai berat hati menopangku.
hendak lari dari ketidakberdayaanku
dulu aku begitu tegak berdiri, kau jadikan penuh sandaran melepas penat bebanmu.
kekasih,
kakiku kini letih
bukan kau tuntun jalan malah hilang menghindar.
aku seperti tersayat,
teriris.....
pedih.
sudah tak dapatkah ku tempat di hatimu?
sempat ku alamatkan ku padamu,
tapi kemudian pudar tak terlacak,
petamu rusak.
kemana kau yg dulu, kekasih?
tersesatkah?
atau memang tak lagi ingin pulang?
belum lama aku bangun
terbuai bahagia yang kita susun bersama.
tiba tiba dihempas
kencang.....
jatuh semakin dalam.
aku kini buta,
menuntun sendiri jalan arahku kemana.
di kerumunannya kau hilang.
kekasih,
berhentilah sebentar
menengoklah ke belakang.
biarkan aku memutar kembali waktu.
tak rindukah kau akan obrolan ringan kita dulu?
aku dan kau kini hanya remang.
bahkan mungkin akan terhapus jaman.
atau
memang harus aku lepas saja?
untuk mulai lagi menjalani hidup seperti sebelumnya,
memperhatikanmu dari kejauhan
mengagumimu diam diam.
...........
hendak lari dari ketidakberdayaanku
dulu aku begitu tegak berdiri, kau jadikan penuh sandaran melepas penat bebanmu.
kekasih,
kakiku kini letih
bukan kau tuntun jalan malah hilang menghindar.
aku seperti tersayat,
teriris.....
pedih.
sudah tak dapatkah ku tempat di hatimu?
sempat ku alamatkan ku padamu,
tapi kemudian pudar tak terlacak,
petamu rusak.
kemana kau yg dulu, kekasih?
tersesatkah?
atau memang tak lagi ingin pulang?
belum lama aku bangun
terbuai bahagia yang kita susun bersama.
tiba tiba dihempas
kencang.....
jatuh semakin dalam.
aku kini buta,
menuntun sendiri jalan arahku kemana.
di kerumunannya kau hilang.
kekasih,
berhentilah sebentar
menengoklah ke belakang.
biarkan aku memutar kembali waktu.
tak rindukah kau akan obrolan ringan kita dulu?
aku dan kau kini hanya remang.
bahkan mungkin akan terhapus jaman.
atau
memang harus aku lepas saja?
untuk mulai lagi menjalani hidup seperti sebelumnya,
memperhatikanmu dari kejauhan
mengagumimu diam diam.
...........
ini lucu
dekat jauh dekat jauh kembali dekat kemudian jauh lagi.
tahun demi tahun,
selalu pergi tapi juga rajin kembali
entah kenapa
sejak dulu aku nyaman saja
yang tak pernah selesai dan juga tak menuntut penyelesaian
biarkan saja begini
jujur karena aku menikmatinya,
tak butuh yang menetap di hati jika akan dengan gampang lari
cukup kamu saja....
teman bicara, teman bercanda
jauh yang selalu ada
diam yang memperhatikan
hihihihihi
dan entah pula sejak kapan.....
aku selalu sayang.
dekat jauh dekat jauh kembali dekat kemudian jauh lagi.
tahun demi tahun,
selalu pergi tapi juga rajin kembali
entah kenapa
sejak dulu aku nyaman saja
yang tak pernah selesai dan juga tak menuntut penyelesaian
biarkan saja begini
jujur karena aku menikmatinya,
tak butuh yang menetap di hati jika akan dengan gampang lari
cukup kamu saja....
teman bicara, teman bercanda
jauh yang selalu ada
diam yang memperhatikan
hihihihihi
dan entah pula sejak kapan.....
aku selalu sayang.
bergumul dalam doa,
seorang pendosa yang bersimpuh
dalam tangis ia mengeluh
akankah nyata kerahiman untuknya
ketika Yang Kuasa menguji suci imannya
sujud memeluk khilaf yang tersingkap
setelah janji dan sumpah telah berkhianat
penyesalan akan selalu berada di belakang
sisa harapan sedikit celah ampunan
dari-Nya yang empunya surga..
seorang pendosa yang bersimpuh
dalam tangis ia mengeluh
akankah nyata kerahiman untuknya
ketika Yang Kuasa menguji suci imannya
sujud memeluk khilaf yang tersingkap
setelah janji dan sumpah telah berkhianat
penyesalan akan selalu berada di belakang
sisa harapan sedikit celah ampunan
dari-Nya yang empunya surga..
untuk kamu...
ini jelas tentang rindu
aku ingin jadi yang paling meneduhkan
ketika terik menghabiskan keringat tubuhmu.
aku akan jadi hujan
yang menyamarkan luka dari tangismu yang berjatuhan.
aku juga ingin jadi cahaya di sela penat lelahmu,
entah mendung hatimu.
kepada kamu...
cinta tak pernah jauh darimu
sebab aku setia mengawasi,
tanpa jeda,
dari bilik doa-doa
yaaa....
aku adalah rumah ketika kau rindu pulang.
meski sebatas persinggahan.
ini jelas tentang rindu
aku ingin jadi yang paling meneduhkan
ketika terik menghabiskan keringat tubuhmu.
aku akan jadi hujan
yang menyamarkan luka dari tangismu yang berjatuhan.
aku juga ingin jadi cahaya di sela penat lelahmu,
entah mendung hatimu.
kepada kamu...
cinta tak pernah jauh darimu
sebab aku setia mengawasi,
tanpa jeda,
dari bilik doa-doa
yaaa....
aku adalah rumah ketika kau rindu pulang.
meski sebatas persinggahan.
“Aku tak ingat lagi
tahun-tahun dimana aku pernah menggurat pelangi di kisahmu
Aku coba mengeja namamu
dengan ribuan peristiwa yang melempar luka di punggung cerita
dan kisah demi kisah tragis yang mencipta gerimis..
Dan ternyata tak mudah, mengabukan kenangan
menakar resah menimbulkan gelisah
Kita pun berjalan terlampau lama
hingga sempat kau sengajakan tersesat di tengah perjalanan
Dan tahun demi tahun,
aku sibuk menanti janji yang tak kukehendaki pergi
kemudian masing-masing kita menjadi sepi
Berapa kilometer lagi perjalanan yang harus kita larung?
Patahan patahan itu menguap disini
atau masih menyisakan ruang di ruas mimpi?
Aku tak bisa jawab.”
tahun-tahun dimana aku pernah menggurat pelangi di kisahmu
Aku coba mengeja namamu
dengan ribuan peristiwa yang melempar luka di punggung cerita
dan kisah demi kisah tragis yang mencipta gerimis..
Dan ternyata tak mudah, mengabukan kenangan
menakar resah menimbulkan gelisah
Kita pun berjalan terlampau lama
hingga sempat kau sengajakan tersesat di tengah perjalanan
Dan tahun demi tahun,
aku sibuk menanti janji yang tak kukehendaki pergi
kemudian masing-masing kita menjadi sepi
Berapa kilometer lagi perjalanan yang harus kita larung?
Patahan patahan itu menguap disini
atau masih menyisakan ruang di ruas mimpi?
Aku tak bisa jawab.”
Rabu, 23 September 2015
"sebelum kau pergi,
mau kah kau tuliskan namaku disini?" aku menunjuk pada sebuah papan kayu.
kau membalas ucapanku dengan tersenyum.
senyum yang membuatku pertama kali menaruh hati padamu, senyum yang menghantuiku berhari-hari, senyum memabukkan itu.
"sini berikan papannya," ucapmu.
CINTA, - Senja
ya, aku Cinta.
Cinta pada Senja. Senja yang sementara
Senja yang akan pergi.
Senja yang belum tentu kembali
Senja yang sekelebat,
yang hanya singkat...
Senja yang tak akan pernah tahu,
bahwa hingga kini papan kayu itu masih ku simpan baik-baik
sebagai penanda walau ia pergi,
Cinta mengharap ia kembali.
mau kah kau tuliskan namaku disini?" aku menunjuk pada sebuah papan kayu.
kau membalas ucapanku dengan tersenyum.
senyum yang membuatku pertama kali menaruh hati padamu, senyum yang menghantuiku berhari-hari, senyum memabukkan itu.
"sini berikan papannya," ucapmu.
CINTA, - Senja
ya, aku Cinta.
Cinta pada Senja. Senja yang sementara
Senja yang akan pergi.
Senja yang belum tentu kembali
Senja yang sekelebat,
yang hanya singkat...
Senja yang tak akan pernah tahu,
bahwa hingga kini papan kayu itu masih ku simpan baik-baik
sebagai penanda walau ia pergi,
Cinta mengharap ia kembali.
Jarak terjauh yang harus ku tempuh adalah antara aku dan harapan orang tuamu.
Cintaku tak lagi cukup jadi alasan.
Cintaku tak lagi cukup jadi alasan.
Dan kau semakin mempertegas batas.
Apa hanya aku yang mengerti sulitnya ini, kekasih?
AH! Sungguh,
jika kau kehendaki aku pergi.
Jika memang sudah harus berhenti,
aku yang pertama akan lari,
yang jauh,
riuh.......
Apa hanya aku yang mengerti sulitnya ini, kekasih?
AH! Sungguh,
jika kau kehendaki aku pergi.
Jika memang sudah harus berhenti,
aku yang pertama akan lari,
yang jauh,
riuh.......
Berlari ..
Berjalan ..
Berhenti ..
Hidup itu pilihan dalam berjuang.
Mungkin hanya aku yang menggantungkan mimpiku tidak pada tinggi, melainkan sebatas sepatu yang ku kenakan.
Aku percayakan mimpiku terseok-seok di perjalanan.
Biar saja dia rasakan perihnya,
Biarkan menggerutu karena terjalnya.
Terluka?
Ah! Itu sih biasaaaaa.
Tak kan ku biasakan manja.
Aku masih percaya satu hal, di setiap perjuangan yang bahkan terkesan sia-sia pun
Tuhan memperhitungkannya.
Cukup nikmati saja keberanian ini sekarang,
Kelak ini yang kan kau banggakan.
Berjalan ..
Berhenti ..
Hidup itu pilihan dalam berjuang.
Mungkin hanya aku yang menggantungkan mimpiku tidak pada tinggi, melainkan sebatas sepatu yang ku kenakan.
Aku percayakan mimpiku terseok-seok di perjalanan.
Biar saja dia rasakan perihnya,
Biarkan menggerutu karena terjalnya.
Terluka?
Ah! Itu sih biasaaaaa.
Tak kan ku biasakan manja.
Aku masih percaya satu hal, di setiap perjuangan yang bahkan terkesan sia-sia pun
Tuhan memperhitungkannya.
Cukup nikmati saja keberanian ini sekarang,
Kelak ini yang kan kau banggakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

