Kamis, 15 Oktober 2015

Aku Ingin Istirahat - Aan Masyur

aku ingin istirahat mengingatmu,
tapi kepalaku sudah jadi kamar tidurmu
jauh sebelum aku mengenal namamu.
aku ingin terpejam
memimpikan wajah lain beberapa jam,
tapi kau cahaya telanjang telentang
di sepasang mataku.
aku ingin memintamu bangun,
tapi kau diam dan gerak di lenganku.
kau bunyi dan sunyi di suaraku.

bagaimana cara menyembunyikan dirimu dari diriku?

malam ini
tidak ada yang sanggup kulakukan selain membuka jendela dan menatap kekosongan
hingga langit menutup matanya yang tenang.
kubayangkan diriku tidur di pelupuknya.
aku tertelan mimpi.
besok barangkali seorang entah siapa mengetuk pintu.
aku bangun dan tidak bisa menemukan diriku lagi.

Selasa, 13 Oktober 2015

Yakobus 1 : 2-4

"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Sebab kamu tahu , bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun. "

Ibrani 13 : 6

"Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata:
Tuhan adalah Penolongku.
Aku tidak akan takut.
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Senin, 12 Oktober 2015

Tuhan, terima kasih.

Dalam diam doa ku,
Kau mendengar isak tangisku
Kau memeluk ketidak berdayaanku
Kau menenangkan ku yang berlutut bersujud.

Tuhan, aku tahu Kau mendengar apa yang tak terucap.
Engkau mengerti apa yang tak dapat ku pahami.

Minggu, 11 Oktober 2015

sebab tadi aku merekam pelukanmu
erat.

seperti kembali dibuai kenangan
ini seperti kau mengucap selamanya,
di nafas mu yang telinga ku sigap menangkap.
semoga saja.......

kekasih,
jangan lepaskan.
aku nadi yang bosan berdenyut ketika kau darah yang berhenti mengalir.
sebab aku luka yang menganga perih, menancap pada duri bunga mu.

kekasih,
aku candu pelukanmu.
bak gerimis di kemarau panjang
menimbulkan debar yang tak sekedar.
sebagaimana daun yang di jatuhkan angin, dingin.
pelukmu meredam riuh rendah bara cemasku.

disini lah saja, kekasih
menetaplah.
jangan pergi.
akan ku bangun megah dirimu
di jantung yang paling dalam.
dimana Tuhanku menitipkan nafas hidupku.

kau mungkin melihatku seolah lekat dengan duka,
kepedihan,
kesakitan,
segala hal yang bagimu menyedihkan.
tapi percayalah,
ini bukan drama. bukan.

tak ada orang yang tidak mendamba bahagia.
selayaknya pun aku.

aku hanya mengagumi kesedihan. memang.
kokoh berdiri,
sendiri,
mandiri,
di malam yang ganjil.
di senja yang temaram
di siang yang mendung
dan pagi yang murung.

aku karang, dihantam ombak pantaimu
tak mengeluh tersapu angin di badai samuderamu.
aku semesta langit, yang lapang dirundung sepi
yang setia menyambut pagi,
dan melambaikan sapa di senja yang berganti.
dengan senyumku,
ku titip rindu yang meneduh..

Sabtu, 10 Oktober 2015

merunduk, layu.

meredup, mati.

meremang, gelap.

menjauh, hilang.

Rabu, 07 Oktober 2015

dalam diammu, aku mendengar ramai kekhawatiran.
di peluk mendung,
pada sendu matamu wangi hujan tampak lekat mendekat.

tenang, kekasih...
aku masih payung yang enggan rapuh.

Selasa, 29 September 2015

perasaan bersalahmu membuat ku merasa masih dicintai.
terus saja begini,
toh aku sudah kebal dengan kekecewaan.

aku gemetar membuka jendela, memandangi nanar senja yg bersembunyi.
ini tak ubahnya kau, kekasih
cintamu usang meski ragamu mengakar di sini.


and you have broken every single f*ckin rule
and I have loved you like a fool~

----------
semoga kesetiaan tidak menjadi alasan kebodohan. - @BilanganFu

Senin, 28 September 2015

"belajarlah berpikir positif," katamu.
tapi semua ketakutanku menjadi nyata, sekarang kau mau bilang apa?
"mataku tak bisa bohong," begitu katamu
aku mengiyakan
karena aku mengenal betul mata sendu itu.
kapan ia menyimpan sendiri segala rahasia, kapan ia tutup rapat-rapat lubang kebohongan.
aku hanya tinggal berpura-pura seperti kau biasanya.
kekasih,
menipu ku pun sia-sia
waktu berpihak padaku.......
kelak kau akan mengerti seperti apa ketulusan yang kau bodoh-bodohi.
ini seperti memberikan pistol lengkap dengan isinya kepadamu
suka-suka kau saja kapan menarik pelatuknya.
ini tidak lebih dari bunuh diri dengan cara yang paling cantik
aku mati di tangan kekasihku sendiri.
tak ada yang lebih jujur dari sebuah pelukan tubuh-tubuh yang telanjang...
I'm lost.

Kamis, 24 September 2015



#currentmood
#belajarmenggambar
"Hai. Salam kenal." aku mengulurkan tangan

"Hai." dia membalas senyuman.

AH!
Aku jatuh cinta.
Ya, sesederhana itu.

Ya, pada senyuman ini.
Di detik pertama aku sudah jatuh hati.
aku asing dengan hingar bingar.

duniaku ada pada ruang sunyi,

berteman rindu sepi,

berkawan sajak puisi,

berkendara kesedihan,

ber-alamatkanmu......
sekali lagi..
bolehkah aku mengangkat kembali kisah kita?
cerita yang menahun mengakar,
dalam jerat ingatan akan tumpukan kenangan yang begitu mengikat… erat!!!
hmm..

hanya kali ini berbeda
tak lagi menceritakanmu sebagai peran utama.
hanya sebagai penanda saja bahwa kamu pernah ada disini, menetap cukup lama.
kini, aku bersama kekasih ku yang baru

kekasihku yang ini suka sekali bercerita,
menceritakan dongeng-dongeng dengan segala keajaiban.
dan semoga saja ini tak lagi sendu seperti dulu
tak lagi basah luka yang berkecambah
 

mantan kekasih,
kesabaranku berbuah manis
kelegaanku mengikhlaskanmu melenyapkan prasangka yang melulu merajam jahanam.

bolehkah kali ini saja aku berbahagia?
tak lagi ratap akan lagu yang sama di telinga kita
tak lagi catat ulang serpih kenangan
ingatan ini seperti tajam kapak yang mulai menumpul!
sisi yang tak lagi mampu mengiris perih
hingga pun tak lagi tercium aroma wangi darahnya.
 

mantan kekasih,
senyumku kini lepas

terbawa ke udara hingga terbang bebas
murka trauma ku pun telah purna tak bernyawa.
sudah cukup cintaku merampas nikmat hidupku
kali ini ku biarkan ia berdebu hingga luruh dimakan waktu.
ragamu hidup

tapi mati dalam ingatanku
 

pula mati dalam kenanganku.
mmmmmmhh...

Aku jadi rindu keras kepalamu.
Ini serupa ilalang liar, tumbuh subur dalam kepala.
Biasanya pola pikirmu selalu menjadi tempat singgah ku sebelum kembali yakin berjalan lagi.
Bahkan hingga kini.

mmmmmmhh...

Sudah mendekati subuh dan aku masih setia bersujud doa.
Entah doa apa.
Jadi kembali mengurai lagi simpul waktu.
hahaha
Memang,
tak pernah berhenti jatuh cinta dengan 'kita',
cerminan sosokku yang ku lihat ada padamu
perkenalan yang aneh,
bahagia yang begitu sederhana.
Meski mungkin terdengar jauh dari kata selamanya,
Tapi darimu, kekasih,
aku belajar bagaimana menyamarkan lukanya,
memeluk kesedihannya dengan tabah.  
Kamu,
terima kasih telah mendewasakan aku.

Kamu, 
teruslah keras kepala!
Karna aku candu memutar gema suaramu.
Mendengarmu berpetuah,
seperti yg sudah-sudah.
abu abu dan semu
mulai tersirat yang semula tak terlihat.
seperti keindahan di kemelut pekat malam.
setitik warna di dasar hitam dalam kanvas.
mengacaukan pola,
memberi beda.
menodai kemurniannya.

entah itu bahagia,
atau sepercik luka
yang malu-malu tumbuh,

seperti tunas merambah rusuk
menyisir teluk....
mungkin aku mengagumi kelebihanmu,
tapi aku lebih jatuh cinta di tiap-tiap detail kekuranganmu.
ketidaksempurnaan yang indah. candu!
kata Ibu ku….
jadilah terang di lautan kelam
meski hanya setitik,
terkadang yang menjadikan gelap itu indah adalah satu muasal cahaya bintang.

kata Ibu ku….
jadilah senja yang dinikmati walau hanya sebentar,
keindahan yang sementara namun meneduhkan

kata Ibu ku….
berbahagialah, meski ribuan ujian mengasah

kata Ibu ku….
tersenyumlah, aku melahirkanmu susah payah,
aku menyayangimu dengan taruhan jiwa dan ragaku.
jadilah berkat bagi mereka yang menyakitimu.
jadilah kasih bagi mereka yang membencimu.
dan
jika kamu ikhlas dengan semua itu,
aku akan sangat bangga padamu.
kenyataan bahwa kau mulai berat hati menopangku.
hendak lari dari ketidakberdayaanku
dulu aku begitu tegak berdiri, kau jadikan penuh sandaran melepas penat bebanmu.
 

kekasih,
kakiku kini letih
bukan kau tuntun jalan malah hilang menghindar.
aku seperti tersayat,
teriris.....
pedih.

sudah tak dapatkah ku tempat di hatimu?
sempat ku alamatkan ku padamu,
tapi kemudian pudar tak terlacak,
petamu rusak.

kemana kau yg dulu, kekasih?
tersesatkah?
atau memang tak lagi ingin pulang?
 

belum lama aku bangun
terbuai bahagia yang kita susun bersama.
tiba tiba dihempas

kencang.....
jatuh semakin dalam.

aku kini buta,
menuntun sendiri jalan arahku  kemana.
di kerumunannya kau hilang.

kekasih,
berhentilah sebentar
menengoklah ke belakang.
biarkan aku memutar kembali waktu.
tak rindukah kau akan obrolan ringan kita dulu?
aku dan kau kini hanya remang.
bahkan mungkin akan terhapus jaman.
atau
memang harus aku lepas saja?
untuk mulai lagi menjalani hidup seperti sebelumnya,
memperhatikanmu dari kejauhan
mengagumimu diam diam.
...........
ini lucu
dekat jauh dekat jauh kembali dekat kemudian jauh lagi.

tahun demi tahun,
selalu pergi tapi juga rajin kembali
entah kenapa
sejak dulu aku nyaman saja
yang tak pernah selesai dan juga tak menuntut penyelesaian

biarkan saja begini
jujur karena aku menikmatinya,

tak butuh yang menetap di hati jika akan dengan gampang lari
cukup kamu saja....
teman bicara, teman bercanda
jauh yang selalu ada
diam yang memperhatikan

hihihihihi
dan entah pula sejak kapan.....


aku selalu sayang.
bergumul dalam doa,

seorang pendosa yang bersimpuh

dalam tangis ia mengeluh

akankah nyata kerahiman untuknya

ketika Yang Kuasa menguji suci imannya

sujud memeluk khilaf yang tersingkap

setelah janji dan sumpah telah berkhianat

penyesalan akan selalu berada di belakang

sisa harapan sedikit celah ampunan

dari-Nya yang empunya surga..
kita akan dilihatkan bagaimana Tuhan bekerja,
mengabulkan doa-doa dengan cara-Nya.
suka tidak suka yakinlah ada kebaikan dan kemuliaan disana


:)
akan ada suatu masa

ketika merelakan hanyalah satu-satunya pilihan.

tidak untuk diri sendiri,

tapi setidaknya untuk yang disayangi.

tidak untuk sekarang,

tapi setidaknya untuk masa depan.



:)
untuk kamu...

ini jelas tentang rindu
aku ingin jadi yang paling meneduhkan
ketika terik menghabiskan keringat tubuhmu.
aku akan jadi hujan
yang menyamarkan luka dari tangismu yang berjatuhan.
aku juga ingin jadi cahaya di sela penat lelahmu,
entah mendung hatimu.

kepada kamu...

cinta tak pernah jauh darimu
sebab aku setia mengawasi,
tanpa jeda,
dari bilik doa-doa
yaaa....
aku adalah rumah ketika kau rindu pulang.
meski sebatas persinggahan.
“Aku tak ingat lagi
tahun-tahun dimana aku pernah menggurat pelangi di kisahmu
Aku coba mengeja namamu

dengan ribuan peristiwa yang melempar luka di punggung cerita
dan kisah demi kisah tragis yang mencipta gerimis..
Dan ternyata tak mudah, mengabukan kenangan
menakar resah menimbulkan gelisah
Kita pun berjalan terlampau lama
hingga sempat kau sengajakan tersesat di tengah perjalanan
Dan tahun demi tahun,

aku sibuk menanti janji yang tak kukehendaki pergi
kemudian masing-masing kita menjadi sepi
Berapa kilometer lagi perjalanan yang harus kita larung?
Patahan patahan itu menguap disini
atau masih menyisakan ruang di ruas mimpi?
Aku tak bisa jawab.”

Rabu, 23 September 2015

hanya kau yang paling pandai menyembunyikan resah.

tapi jujur,

tak lebih pandai dari peka ku menangkap mata mu yang gelisah.
....
"sebelum kau pergi,
mau kah kau tuliskan namaku disini?" aku menunjuk pada sebuah papan kayu.
kau membalas ucapanku dengan tersenyum.
senyum yang membuatku pertama kali menaruh hati padamu, senyum yang menghantuiku berhari-hari, senyum memabukkan itu.
"sini berikan papannya," ucapmu.

CINTA, - Senja

ya, aku Cinta.
Cinta pada Senja. Senja yang sementara
Senja yang akan pergi.
Senja yang belum tentu kembali
Senja yang sekelebat,
yang hanya singkat...

Senja yang tak akan pernah tahu,
bahwa hingga kini papan kayu itu masih ku simpan baik-baik
sebagai penanda walau ia pergi,
Cinta mengharap ia kembali.


kau tumbuh di sini,

kekasih....

membesar menjadi badan

mengakar dalam ingatan.


#belajarmenggambar
Jarak terjauh yang harus ku tempuh adalah antara aku dan harapan orang tuamu.
Cintaku tak lagi cukup jadi alasan.
Dan kau semakin mempertegas batas.
Apa hanya aku yang mengerti sulitnya ini, kekasih?

AH! Sungguh,

jika kau kehendaki aku pergi.

Jika memang sudah harus berhenti,

aku yang pertama akan lari,

yang jauh,

riuh.......
aku hidup dalam tubuhmu.

aku detak di nadimu......

ini tak akan selesai,

belum

akan

selesai.


Ini yang saya pahami tentang kopi.

Ibarat cinta yang tak pernah payah.

Sebuah kesederhanaan yang mewah...
Berlari ..
Berjalan ..
Berhenti ..

Hidup itu pilihan dalam berjuang.
Mungkin hanya aku yang menggantungkan mimpiku tidak pada tinggi, melainkan sebatas sepatu yang ku kenakan.
Aku percayakan mimpiku terseok-seok di perjalanan.
Biar saja dia rasakan perihnya,
Biarkan menggerutu karena terjalnya.
Terluka?
Ah! Itu sih biasaaaaa.
Tak kan ku biasakan manja.
Aku masih percaya satu hal, di setiap perjuangan yang bahkan terkesan sia-sia pun
Tuhan memperhitungkannya.
Cukup nikmati saja keberanian ini sekarang,
Kelak ini yang kan kau banggakan.
Petang mulai merayapi dinding langit
biru terang berganti merah yang keemasan
jarang-jarang sekali warnanya bisa secantik ini

Mas,
mungkin Tuhan paham aku rindu.....
rindu
meneduh
di
matamu.....